Syndrome Parfume, Inovasi Mahasiswa Dampingan Inkubator UNY yang Mengubah Aroma Menjadi Kenangan

Yogyakarta – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Program Inkubator UNY 2025 terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang usaha. Salah satu usaha mahasiswa yang dikembangkan melalui program tersebut adalah Syndrome Parfume, inovasi parfum yang mengusung konsep “Mengubah Aroma Menjadi Kenangan”.
Syndrome Parfume dikembangkan oleh tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNY, yaitu Erlang Dwi Fitrianta, Alifah Naila Yasmin, dan Tira Felia Ramadhani. Produk ini dikembangkan untuk membantu konsumen menemukan pilihan aroma yang dapat memberikan kesan segar sekaligus mendukung rasa percaya diri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Melalui Program Inkubator UNY 2025, tim mengembangkan Syndrome Parfume dengan dua varian utama, yaitu parfum badan dan parfum sepatu. Produk tersebut mengedepankan karakter aroma yang unik, kualitas, ketahanan wangi, serta kenyamanan penggunaan.
Gagasan pengembangan Syndrome Parfume berangkat dari pengamatan tim terhadap kebutuhan anak muda dalam memilih aroma parfum. Di tengah banyaknya pilihan parfum yang ditawarkan melalui berbagai platform digital, konsumen masih menghadapi tantangan dalam menentukan aroma yang sesuai dengan karakter dan dapat memberikan pengalaman personal.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim Syndrome Parfume mengembangkan konsep aroma yang tidak hanya berorientasi pada kesegaran, tetapi juga dikaitkan dengan pengalaman dan kenangan penggunanya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah memberikan nama pada varian parfum badan berdasarkan kota-kota di Indonesia. Setiap kota dipilih karena memiliki kesan, karakter, dan makna yang kemudian diterjemahkan ke dalam karakter aroma tertentu.
Konsep tersebut menjadi identitas Syndrome Parfume. Bagi tim pengembang, aroma tidak sekadar berfungsi sebagai pewangi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas dan pengalaman emosional seseorang. Melalui aroma yang lembut namun berkesan, produk ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi penggunanya.
Syndrome Parfume memiliki formulasi yang ringan dan praktis dibawa sehingga dapat digunakan dalam berbagai aktivitas. Produk parfum badan dan parfum sepatu dikembangkan untuk memberikan keharuman yang tahan lama sekaligus menciptakan kesan yang dapat melekat dalam ingatan pengguna.
Filosofi tersebut dirangkum dalam tagline “Mengubah Aroma Menjadi Kenangan”. Tagline ini menggambarkan gagasan bahwa aroma dapat mengingatkan seseorang pada suasana, tempat, maupun perasaan tertentu. Pendekatan tersebut menjadi salah satu karakter yang membedakan Syndrome Parfume dalam pengembangan produknya.
Dalam pengembangan pasar, tim memanfaatkan digital marketing melalui media sosial, khususnya Instagram dan TikTok. Promosi juga dilakukan melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan olahraga. Strategi tersebut diarahkan untuk memperkenalkan produk kepada target pasar yang terdiri atas anak muda, karyawan, dan komunitas olahraga.
Kehadiran Syndrome Parfume menjadi salah satu contoh pengembangan usaha mahasiswa melalui Program Inkubator UNY. Program ini tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi, tetapi juga mendorong mahasiswa membangun kemampuan kewirausahaan, mengembangkan produk, serta melihat peluang bisnis dari permasalahan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
Melalui ekosistem inkubasi tersebut, UNY terus mendorong mahasiswa untuk menjadi inovator sekaligus wirausahawan yang kreatif dan berani mengambil peluang. Pengembangan Syndrome Parfume menunjukkan bagaimana ide mahasiswa dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki identitas, nilai tambah, dan potensi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagi DIU UNY, keberadaan usaha seperti Syndrome Parfume menjadi bagian dari upaya pengembangan ekosistem kewirausahaan mahasiswa. Pendampingan melalui program inkubasi diharapkan dapat membantu mahasiswa mengembangkan produk secara lebih terarah sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat tumbuh menjadi usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.