Herbascent, Inovasi Mahasiswa Dampingan Inkubator Bisnis UNY Olah Limbah Organik Menjadi Dupa Fungsional

Yogyakarta – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program Inkubator Bisnis terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Salah satu usaha mahasiswa yang dikembangkan dalam ekosistem tersebut adalah Herbascent, rintisan usaha yang memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku dupa fungsional.
Herbascent dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen UNY, yaitu Wahab Kholaf Waliuddin, Muhamad Raihan Taftayazi, dan Aldonna Feronica Kristory. Usaha ini mengembangkan produk dupa berbasis bahan alami lokal dengan mengangkat konsep riset dan kearifan lokal.
Gagasan Herbascent berangkat dari perhatian terhadap beberapa persoalan, antara lain penggunaan bahan pewangi sintetis pada produk dupa komersial, pengelolaan limbah batok kelapa, serta kebutuhan terhadap alternatif produk insektisida untuk penggunaan rumah tangga. Melalui inovasi tersebut, tim Herbascent berupaya mengolah sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Dalam pengembangannya, Herbascent menggunakan fiber batok kelapa sebagai bahan utama, kayu gemor (Nothaphoebe coriacea) sebagai bahan perekat alami sekaligus bahan yang digunakan untuk fungsi insektisida, serta minyak atsiri sebagai sumber aroma. Minyak atsiri yang digunakan antara lain berasal dari tanaman lokal seperti cengkeh, lavender, dan akar wangi atau vetiver.
Pengembangan produk dilakukan melalui studi literatur dan proses Research and Development (R&D) untuk memperoleh komposisi yang sesuai. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya tim untuk menggabungkan hasil riset dengan pemanfaatan bahan baku lokal dalam pengembangan produk usaha mahasiswa.
Herbascent mengembangkan konsep produk yang memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai produk aromaterapi, insektisida berbahan alami, dan dupa yang dapat digunakan dalam kegiatan ritual keagamaan. Konsep tersebut menjadi bagian dari diferensiasi produk yang dikembangkan oleh tim Herbascent.
Dari sisi pengujian, Herbascent telah memperoleh hasil validasi yang positif. Berdasarkan survei terhadap 304 responden, sebanyak 93,5 persen responden menyatakan produk efektif sebagai insektisida alami, sementara 84,8 persen menyatakan aroma yang dihasilkan sangat menyenangkan. Uji efektivitas di laboratorium juga menunjukkan bahwa varian dupa stik mampu mematikan 90 persen nyamuk dalam waktu 17 menit berdasarkan parameter KDT90.
Pengembangan Herbascent juga diarahkan untuk memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Usaha yang berlokasi di Kalasan, Sleman, tersebut menerapkan sistem produksi padat karya serta melibatkan masyarakat sekitar, termasuk pemuda dan ibu-ibu PKK. Tim juga menjalin kemitraan dengan petani dan penyuling minyak atsiri lokal dalam mendukung keberlanjutan rantai pasok bahan baku.
Herbascent menjadi salah satu usaha binaan UNY yang telah memperoleh pendanaan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) pada 2024 dan berpartisipasi dalam ajang kewirausahaan nasional, termasuk KMI Expo 2024. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan Herbascent sebagai rintisan usaha mahasiswa.
Keberadaan Herbascent menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan ide usaha yang berangkat dari persoalan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan limbah batok kelapa sebagai bahan baku sekaligus keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian dari upaya menciptakan model usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki dampak sosial dan lingkungan.
Melalui Inkubator Bisnis UNY, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengembangkan kreativitas, melakukan inovasi, serta mengarahkan hasil riset dan gagasan menjadi produk yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha. Herbascent menjadi salah satu contoh usaha mahasiswa yang mengintegrasikan inovasi produk, pemanfaatan sumber daya lokal, dan pemberdayaan masyarakat.
Pengembangan Herbascent juga sejalan dengan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya aspek kesehatan melalui SDG 3 dan pertumbuhan ekonomi melalui SDG 8.
Melalui ekosistem kewirausahaan yang dikembangkan UNY, Direktorat Inovasi dan Usaha (DIU) UNY terus mendorong tumbuhnya usaha mahasiswa yang inovatif, berdaya saing, dan memiliki dampak bagi masyarakat. Herbascent menjadi salah satu bentuk nyata bahwa pendampingan dan pengembangan kewirausahaan mahasiswa dapat menghasilkan inovasi yang menghubungkan aspek bisnis, riset, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.